22.4 C
Indonesia
Thursday, October 28, 2021
- Advertisement -

Moment Of The Day – 20 Januari

Sahabat Elshifa,kita akan mengingat sebuah peristiwa yang terjadi tanggal  20 Januari.

Hari ini tepatnya tanggal 20 Januari1978 adalah pada saat  Soehartomemberlakukan larangan penerbitan 7 surat kabar: Kompas, Sinar Harapan,Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore untuk sementarawaktu. Pelarangan terbit atas 7 surat kabar tersebut berlangsung selama 2minggu.

Pembredelan atau pelaranganpenyiaran adalah penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secarapaksa atau melawan hukum. Alasan pembredelan biasanya adalah pemberitaan dimedia yang bersangkutan menjurus kepada hal-hal yang menyinggung penguasa danatau lapisan masyarakat tertentu.

Pada tahun 1982, majalah Tempodibredel untuk pertama kalinya. Pembredelan ini terjadi karena Tempo dianggapterlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan kendaraan politiknya pada masaitu, yaitu partai Golkar. Majalah Tempo kemudian diperbolehkan terbit kembalisetelah menandatangani sebuah pernyataan diatas kertas segel dengan MenteriPenerangan saat itu, Ali Murtopo. Pada masa orde baru, terdapat lembaga bernamaDepartemen Penerangan yang bertugas mengawasi pers.

etelah mengalami pembredelan pertamapada 1982, majalah Tempo kembali mengalami pembredelan pada 21 Juni 1994.Pembredelan dilakukan pada oleh pemerintah, melalui Menteri Penerangan saatitu, Harmoko. Majalah Tempo yang terbit 7 Juni 1994 mengkritik pembelian 39kapal perang bekas dari Jerman Timur seharga USD 12,7 juta menjadi USD 1,1miliar. Sepekan sebelumnya, majalah Tempo mengungkapkan pelipatgandaan hargakapal bekas sebesar 62 kali lipat.

Atas pemberitaan ini, Tempo dinilai terlalukeras mengkritik Habibie dan Soeharto tentang pembelian kapal-kapal bekas dariJerman Timur yang bermasalah. Pembelian kapal perang tersebut dilakukan olehMenteri Riset dan Teknologi pada waktu itu, B.J. Habibie. Sedangkan pemerintahsendiri, dalam hal ini Menteri Keuangan Marie Muhammad, tak pernah merencanakanpembelian tersebut.

Pada pembredelan periode kedua,pihak Tempo melakukan perlawanan dengan mangajukan gugatan ke Peradilan TataUsaha Negara. Selain itu banyak jurnalis yang mengecam sikap DepartemenPenerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang mendukung pembredelanmajalah Tempo. Para jurnalis ini kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Indonesia(AJI) sebagai bentuk perlawanan terhadap bentuk kontrol informasi dan kontrolorganisasi wartawan di tangan pemerintah.[4] Selain itu, demonstrasi jugaterjadi di berbagai wilayah di Indonesia terkait pembredelan tersebut.

Setelah pemberedelan kedua, Temposempat berhenti beroperasi selama empat tahun. Akibat dari pembredelan tersebut,banyak karyawan Tempo yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemudian,saat lengsernya Soeharto dan bangkitnya reformasi di Indonesia pada Mei 1998,Tempo beroperasi dan terbit kembali. Kemunculan Tempo yang pertama setelahdibredel ini terjadi pada 12 Oktober 1998.

Related Articles

Stay Connected

8,168FansLike
1,010FollowersFollow
500FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Latest Articles