26.4 C
Indonesia
Thursday, October 28, 2021
- Advertisement -

Moment Of The Day – 18 Januari

Sahabat Elshifa, kita akan mengingat sebuah peristiwa yang terjadi tanggal 18 Januari.

Hari ini tepatnya tanggal 18 Januari 532 M adalah hari pada saat Kerusuhan Nika di Konstantinopel gagal.

Kerusuhan Nika atau Pemberontakan Nika terjadi selama seminggu di Konstantinopel pada tahun 532 M. Kerusuhan ini adalah yang terbesar selama sejarah Konstantinopel, dengan hampir 50% kota dibakar atau dirusak, dan puluhan ribu orang tewas.

Kekaisaran Romawi Kuno dan Kekaisaran Bizantium telah mengembangkan sebuah badan, yang dikenal sebagai demes, yang mendukung pihak-pihak yang berbeda (atau tim-tim) yang bertanding pada sebuah kompetisi kejuaraan olahraga, hal ini sangat tampak pada pertandingan balap chariot (semacam kereta kuda). Pada masa itu, terdapat empat tim besar pada pertandingan balap chariot, yang dibedakan oleh warna seragam yang dipertandingkan; warna inipun dipakai pula oleh pendukung mereka. Tim-tim ini dikenal sebagai Biru, Merah, Hijau, dan Putih, meskipun pada era Bizantium tim yang berpengaruh hanya Biru dan Hijau. Kaisar Yustinianus I adalah seorang pendukung tim Biru.

Badan tim ini telah menjadi fokus dari berbagai macam isu-isu social dan politik, dimana masyarakat Bizantium tidak memiliki tempat untuk membahasnya. Warga mengombinasikan aspek-aspek dari preman jalanan dan partai politik, dengan masalah terkini waktu itu, terutama masalah-masalah teologis (sebuah penyebab argumentasi yang besar dan penuh kekerasan pada abad ke-5 dan abad ke-6) atau pewaris tahta. Mereka kadang kala berusaha memengaruhi kebijakan kaisar dengan meneriakan keinginan politiknya di tengah-tengah pertandingan. Pengawal kerajaan dan tentara Konstantinopel tidak dapat menjaga ketertiban tanpa dukungan dari faksi-faksi perlombaan yang didukung oleh keluarga-keluarga aristokrat kota; termasuk di dalamnya beberapa keluarga yang merasa bahwa mereka lebih memiliki hak atas tahta dibandingkan Yustinianus sendiri.

Pada tahun 531, sejumlah anggota tim Biru dan tim Hijau ditangkap atas tuduhan pembunuhan yang berhubungan dengan beberapa kematian yang muncul selama kerusuhan setelah beberapa pertandingan terakhir. Kerusuhan yang relatif terbatas tidak diketahui pada saat pertandingan balap chariot, mirip dengan holiganisme sepak bola yang terkadang berubah menjadi kerusuhan setelah kejuaraan sepak bola pada masa modern. Terdakwa yang terlibat divonis dengan hukuman gantung, dan sebagian berhasil dieksekusi. Namun, pada tanggal 10 Januari 532, dua di antara para terdakwa, seorang Biru dan seorang Hijau, berhasil melarikan diri dan mengungsi ke gereja yang kemudian dikepung oleh massa yang mengamuk.

Yustinianus menjadi gelisah: ia sedang berada di tengah negosiasi dengan pihak Persia mengenai perdamaian di timur kerajaan, ada ketidaksenangan yang cukup besar akibat penarikan pajak yang tinggi, dan sekarang ia harus menghadapi kemungkinan krisis di dalam ibu kota. Menghadapi hal ini, Yustinianus mengumumkan bahwa sebuah pertandingan balap chariot akan diadakan pada tanggal 13 Januari dan mengubah hukuman mati menjadi hukuman penjara bagi kedua terdakwa. Tim Biru dan tim Hijau menanggapinya dengan menuntu pembebasan kedua anggota tersebut sepenuhnya.

Related Articles

Stay Connected

8,168FansLike
1,010FollowersFollow
500FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Latest Articles