27.4 C
Indonesia
Saturday, July 2, 2022
- Advertisement -

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI III

Sumber Foto : Dokumen elshifa radio/taufik hidayat

Rep/ Red: Annasya Rabu 09 September 2020 14:00 WIB

KESULTANAN DI TANAH JAWA

SUBANG – ELSHIFARADIO.COM, Pulau Jawa merupakan saksi pesatnya perkembangan Islam di Nusantara. Di Pulau Jawa, Islam masuk di antaranya melalui pusat-pusat kerajaan. Di Pulau Jawa, agama kerajaan banyak ditentukan oleh agama pemimpinnya. Ketika seorang raja beragama Islam, maka bercorak Islamlah kerajaan tersebut. Dengan kata lain, menjadi kesultananlah pemerintahan tersebut. Hal ini sangat disadari oleh para penyebar Islam di tanah air.

Wali songo adalah Waliyul Amri atau anggota dewan yang berjumlah sembilan orang. Mereka adalah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria (Raden Umar Said, dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Runtuhnya Majapahit pada awal abad ke – 15 menjadi awalan baru bagi sejarah di Nusantara, salah satunya adalah berdirinya kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yakni Kesultanan Demak. Sultan-sultan Demak diantaranya adalah Raden Patah, Adipati Unus, Trenggono, Bagus Mukmin, dan lainnya. Kemudian berdiri Kesultanan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Joko Tingkir. Setelah itu berdiri Kesultanan Mataram, yang pecah menjadi dua yaitu Mataram Surakarta da Mataram Ngayogyakarta.

KESULTANAN CIREBON

Awalnya nama Kesultanan Cirebon adalah Kesultanan Caruban Nagari. Caruban artinya campuran, karena dahulu Cirebon adalah pelabuhan yang banyak dikunjungi orang-orang hingga ada yang tinggal bahkan bercocok tanam, dan menjadi nelayan disana. Bercampurbaurlah orang-orang di Pelabuhan Cirebon ini.

Diriwayatkan, Ki Ageng Tapa yang merupakan Ayah dari Nyai Subang Larang menikah Prabu Siliwangi kemudian memiliki 3 anak bernama Walang Sungsang, Rara Santang, dan Pangeran Sangara. Walang Sungsang adalah orang yang meletakkan batu pertama kesultanan Cirebon. Suatu hari, Walang Sungsang melakukan perjalanan haji bersama adiknya, Rara Santang. Disana Rara Santang kemudian dinikahi oleh Gubernur Mesir kala itu, Syarif Abdullah. Mereka memiliki anak yang merupakan keponakan Sultan Walang Sungsang, Syarif Hidayatullah atau yang kita kenal Sunan Gunung Jati. Sekembalinya Syarif Hidayatullah ke Indonesia, ia menjadi Waliyul Amri dan kemudian menggantikan Sultan Walang Sungsang menjadi Sultan Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki gelar Ingkang Sinuhun Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Auliya Allah Kutubid Zaman Khalifatur Rasulillah, yang artinya saya yang akan melanjutkan dakwah Rasulullah melalui Kesultanan Caruban Nagari ini untuk mengislamkan Jawa bagian barat.

Wilayah kekuasaan Sultan Syarif Hidayatullah meliputi Kuningan, Cirebon, Majalengka, Indramayu yang memiliki jejak sejarah berupa kraton, rumah adat, tata kota, tata desa, nama jalan, dan pemakaman.

KEDATANGAN EROPA KE NUSANTARA

Bangsa Eropa datang ke Nusantara semata-mata bukan hanya karena rempah-rempah. Zaman dahulu, orang-orang Eropa membeli rempah-rempah ke Konstantinopel. Tapi kemudian Sultan Muhammad Al-Fatih membatasi pergerakan Eropa disana demi keamanan Negara Utsmani kala itu. Maka, orang-orang Eropa marah dan mencari sumber kekayaan rempah-rempah ini hingga menemukan Nusantara. Sehingga mereka mengundang orang-orang Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda, Prancis, Inggris) datang ke Nusantara dengan misi Gold-Glory-Gospel, artinya Emas-Kejayaan-Kristenisasi. Terjadilah penjajahan di Nusantara.

Dijajahnya Nusantara membuat Negara Utsmani secara tidak langsung berhutang budi karena kebjakannya membuat orang-orang Eropa menjajah Nusantara. Sultan Utsmani kala itu mengirimkan tentara pasukan elit untuk membantu perjuangan Pangeran Diponegoro kala itu.

Saat perjuangan Pangeran Diponegoro inilah disebut dengan kebangkitan nasional. Kemudian lahir lagi tokoh besar yaitu HOS Cokroaminoto yang melahirkan kesadaran nasional. Karena dari HOS Cokroaminoto lahir seorang Soekarno (nasionalis), Kartosuwiryo (DI/TII), dan Semaun. Setelah terjadi pergerakan nasinal dan lahir Sarekat Islam yang memunculkan tokoh-tokoh penting seperti Buya Hamka, Agus Salim, Sultan Syahrir, dan lainnya. Akhirnya terjadilah proklamasi.

Materi mengenai “Napak Tilas Pewaris Negeri” ini telah disampaikan oleh penulis buku nasional, Ustadz Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd., dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Kreatif (DAKREF) Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dalam rangka memaknai momentum HUT RI dan Tahun Baru 1442 H, Kamis (20/08/20). (Rep/ Red: Annasya)

Related Articles

Stay Connected

8,168FansLike
1,010FollowersFollow
500FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Latest Articles