29.4 C
Indonesia
Thursday, August 18, 2022
- Advertisement -

NAPAK TILAS PEWARIS NEGERI II

Sumber Foto : Dokumen elshifa radio/taufik hidayat

Rep/ Red: Annasya Rabu 09 September 2020 05:45 WIB

SEJAK KAPAN ISLAM MASUK NUSANTARA?

SUBANG – ELSHIFARADIO.COM, Terdapat 3 teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara, yaitu teori Gujarat, teori Persia, dan teori Makkah. Teori Makkah membantah teori Gujarat dan teori Persia yang menyebutkan bahwa Islam masuk Nusantara pada abad 12 atau 13 M. Padahal, literatur Cina menyebutkan menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir Pantai Sumatera.

Dalam sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriyah, Nusantara pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’ (Amirul Mukminin).

Kemudian dari buku Abd Al Rabbah dalam karyanya Al Iqd al Farid, menyebutkan sekitar tahun 718 M ada sebuah proses korespondensi yang berlangsung antara Raja Sriwijaya kala itu, Prabu Sri Indravarman, dengan Khalifah yang terkenal adil kala itu, Umar bin Abdul Aziz, yang berisi:

Surat

Raja Sriwijaya

Prabu Sri Indravarman

Kepada

Khalifah Daulah Umayyah

Umar bin Abdul Aziz

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja;

Yang di dalam kendang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau 12 mil;

Kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan.

Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,”

Namun, apakah surat ini sampai kepada khalifah atau tidak, wallahu ‘alaam. Karena saat itu, Kerajaan Sriwijaya Palembang runtuh dan berganti menjadi Kerajaan Sriwijaya Jambi.

Masih mengenai lanjutan materi mengenai “Napak Tilas Pewaris Negeri” yang telah disampaikan oleh penulis buku nasional, Ustadz Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd., dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Kreatif (DAKREF) Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dalam rangka memaknai momentum HUT RI dan Tahun Baru 1442 H, Kamis (20/08/20).

Ada beberapa alasan yang menyebabkan mayoritas penduduk Nusantara memeluk Islam, diantaranya adalah pernikahan antara para pedagang dan bangsawan, seperti Raja Brawijaya yang menikahi Putri Jeumpa, yang melahirkan Raden Patah. Kemudian karena pendidikan pesantren, pedagang Islam, seni dan kebudayaan, seperti wayang yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga, serta karena dakwah.

Sementara itu, ketika Kerajaan Kediri runtuh berganti menjadi Kerajaan Singosari yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara. Prabu Kertanegara memiliki sumpah untuk menyatukan seluruh melayu dengan melakukan Ekspedisi Pamalayu. Ketika Singosari sedang merancang ekspedisi ini, datanglah Jenderal Mengki utusan Kaisar Mongol, Kublai Khan, yang sedang menguasai Cina. Jenderal Mengki menyerahkan surat yang dititipkan Kublai Khan dan berisi perintah untuk tunduk pada Kekaisaran Mongol, sehingga menimbulkan kemarahan Prabu Kertanegara. Pada satu Riwayat menyebutkan bahwa prabu memotong telinga Jenderal Mengki dan pada Riwayat lain menyebutkan bahwa prabu menebas wajah Jenderal Mengki berbentuk huruf X dengan kerisnya. Hal ini menyulut perang antara kedua kerajaan. Sehingga Kekaisaran Mongol mengirimkan tentaranya bermaksud untuk meluluhlantakkan tanah jawa khususnya menyerang Kerajaan Singosari.

Namun, belum sampai tentara Mongol ke Nusantara, Kerajaan Singosari telah diruntuhkan terlebih dahulu oleh Jayakatwang yang merupakan besan Prabu Kertanegara. Ketika Prabu Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Sumatera, Singapura, dan Malaysia dalam Ekspedisi Pamalayu, Jayakatwang yang merupakan pemimpin Kerajaan Kediri yang sudah runtuh menginginkan kekuasaan. Sehingga ia menyerang Kerajaan Singosari yang menyebabkan Prabu Kertanegara terbunuh. Sementara menantu Kertanegara, Raden Wijaya melarikan diri dari kejaran tentara Kediri dan Arda Raja tetap memihak ayahnya, Jayakatwang. Kerajaan Kediri pun kembali berkuasa menggantikan Kerajaan Singosari.

Saat konflik itu terjadi, datanglah tentara Mongol yang notabene akan menyerang Kerajaan Singosari dalam rangka balas dendam kepada Kertanegara. Namun, tentara Mongol mendapati Kerajaan Singosari telah runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Kediri. Lalu tentara Mongol menyerang Kediri, dan seketika hancurlah Kerajaan Kediri. Tidak lama, berdirilah Kerajaan Majapahit. Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, pemeluk Islam sudah ada namun belum banyak dan penduduk Muslim sulit untuk menembus wilayah kerajaan. Akhirnya, pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya, ajaran Islam mulai meluas karena prabu menikah dengan Putri Kerajaan Champa di Kamboja, Amarawati. Sementara itu, kakak ipar Amarawati merupakan ulama bernama Sayyid Ibrahim Al-Akbar. Sehingga, Prabu Brawijaya meminta Sayyid Ibrahim Al-Akbar untuk datang ke Kerajaan Majapahit dan berdakwah di Jawa, agar dapat mendirikan Daharmayaksa Bhatara Ring Kaislaman (seperti MUI kini). Dari Sayyid Ibrahim Al-Akbar inilah lahir Sunan Ampel. Sehingga dengan datangnya Sayyid Ibrahim Al-Akbar menjadi jalan Islam mulai menyebar di Nusantara. (Rep/Red: Annasya)

Related Articles

Stay Connected

8,168FansLike
1,010FollowersFollow
500FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Latest Articles