26.4 C
Indonesia
Thursday, July 28, 2022
- Advertisement -

Moment Of The Day – 18 Juni

Sahabat Elshifa, kita akan mengingat sebuah peristiwa yang terjadi tanggal 18 juni.

Hari ini tepatnya tanggal 18 Juni 1999 adalah hari saat meninggalnya seorang sastrawan Indonesia/ Motinggo Bosye.

Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabiah Jakub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur dan ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman. Setelah menikah, mereka berdua pergi merantau ke Kota Bandar Lampung. Di sana ayahnya bekerja sebagai pegawai Koninklijke Paketvaart Maatschappij di Kupang Kota, sedangkan ibunya mengajar ilmu agama dan bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukittinggi hingga ia menamatkan SMA. Motinggo kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, namun tidak selesai.

Motinggo merupakan nama pena yang diambil dari bahasa Minangkabau, mantiko. Kata tersebut memiliki makna bersifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun mantiko dalam diri Motinggo bukanlah berkonotasi negatif, maka ia menambahkan kata bungo (bunga) di belakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Boesje. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, ia juga memilki nama gelar adat Minangkabau yaitu Saidi Maharajo.

Awal kariernya dalam dunia tulis-menulis, dimulai ketika Tomoyuki Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabatnya untuk mencurahkan ide-idenya. Semenjak tekun membaca buku-buku sastra Balai Pustaka, minatnya tumbuh untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat hadiah pertama sayembara penulisan drama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bagian kesenian pada tahun 1958. Cerpennya yang berjudul Nasihat Buat Anakku mendapat hadiah majalah Sastra pada tahun 1962. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, D. C.. Di taman kota Seoul, Korea Selatan, namanya terpahat indah di antara 1.000 penyair dunia. Ia juga sempat menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.

Selain terlibat dalam dunia sastra dan drama, ia juga menyukai seni lukis. Pada tahun 1954, sebuah pameran lukisan di Padang pernah menampilkan 15 lukisan karyanya.

Related Articles

Stay Connected

8,168FansLike
1,010FollowersFollow
500FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Latest Articles